Sidogiri, Ada Apa Denganmu?? (Refleksi singkat tentang kondisi riil Pondok Pesantren Sidogiri saat ini)

Jauh sebelum saya menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Sidogiri, otak saya sudah disesaki dengan beragam informasi tentang superioritas Sidogiri. Mulai dari kopontrennnya, kesalafannya, konsistensinya, barokahnya sampai pada tradisi tulis-menulis santrinya yang mengakar kuat. Sungguh kegaguman saya memuncak waktu itu.

Setelah saya mulai menginjakkan kaki di Sidogiri, apa yang saya kagumi itu memang benar-benar riildan tampak nyata. Saya merasa berada di pusaran keilmuan yang diri ini tidak berarti apa-apa. Begitu bodoh dan kecil. Begitu mudahnya waktu itu saya menemukan santri yang pintar baca kitab, hafalAlfiyah ibn Malik dan begitu mudahnya pula saya menemukan kelompok diskusi kitab kecil-kecilan di jerambah-jerambah asrama. Sungguh, melihat Sidogiri beberapa dekade yang lalu, saya serasa di bawa pada era keemasan Islam di adab pertengahan silam.

Kini, alhamdulillah semua itu masih saya rasakan. Meski dalam nuansa yang berbeda dan dengan intensitas yang kian membingungkan. Sidogiri yang ada di benak saya saat ini seakan berupa wujud Sidogiri lain. Meski, yang perlu saya tegaskan, apapun kondisinya, Sidogiri tetaplah Sidogiri yang penuh dengan ragam misteri. Seperti yang sering ditegaskan, bahwa keberhasilan Sidogiri dalam mendidik santrinya tidak bisa diasumsikan secara matematis melalui akal. Ada faktor X yang ikut nimburg dalam proses pendidikan santrinya.

Tapi, perkenankanlah saya berbicara secara objektif tentang lembaga tercinta ini. Bahwa sejujurnya, kita melihat Sidogiri sama seperti seperti melihat gunung dari tempat yang nun jauh di sana. Yang rindang, sejuk, indah dan mendamaikan. Kita akan sadar pada fakta yang sebenarnya, ketika pandangan mata mulai mendekat. Bahwa di balik pepohonan hijau yang indah itu, terdapat lereng tebing yang terjal dan penuh bebatuan. Terdapat bermacam-macam spesies hewan yang mematikan. Bahkan yang sering tidak disadari, gunung yang tampak tenang itu ternyata aktif yang sewaktu-waktu bisa meletus dan menumpahkan laharnya tanpa di diduga sebelumnya.

Maksudnya adalah, bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki dari (orang) Sidogiri ini. faktor barokah, misteri dan entah apa lagi, tidak bisa kita jadikan justifikasi untuk membenarkan tingkah laku kita yang kian tidak menentu arah. Wajah Sidogiri yang sudah lumayan cantik dan anggun di mata dunia ini tidak perlu lagi kita rusak dengan ego pribadi.

Secercah cahaya memberikan harapan baru untuk Sidogiri ke depan. Kita mesti menyambut baik usaha pengurus yang telah dilakukan di awal pelajaran tahun ini. Seperti tambahan jurusan di tingkat MA, program prestesius i`dadiyah, larangan merokok untuk santri tingkat Tsanawiyah dan program-program prospektif yang lain. Semua usaha ini adalah demi terus meningkatkan kualitas keilmuan santri.

Tidak ada kata terlambat. Tidak ada istilah menyerah. Tidak ada lagi sifat pesimis. Dunia masih terbuka dan menunggu kita untuk memasukinya.  Lets go!.

Sidogiri, 10 Oktober 2012

Pos ini dipublikasikan di Catatan Ringan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s