MEWASPADAI TOPENG EMANSIPASI

Belakangan ini, DPR sedang kencang-kencangnya membahas RUU (Rancangan Undang-Undang) Kesetaraan dan Keadilan Gender. Pemerintah mengusulkan agar RUU ini dijadikan hukum positif di Indonesia, seperti di negara-negara lain, khususnya di barat. Kontan saja, ide ini mendapat sorotan dan menuai protes dari berbagai kalangan praktisi maupun ormas-ormas Islam.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa usaha musuh Islam untuk menghancurkan generasi bangsa melalui wanita masih belum usai. Mereka berlagak seolah-olah sebagai penyelamat wanita dari perbudakan dan ketidak adilan. Namun, sejatinya di balik topeng emansipasi yang mereka perjuangkan terdapat maksud tersembunyi yang sangat berbahaya.

Ada Apa Dengan Wanita?

            Sering kali, pembahasan wanita disandingkan dengan isu-isu persamaan hak, keadilan, emansipasi dan penindasan atas nama agama. Sehingga, timbul kesan seolah-olah agama Islam tidak adil memperlakukan mereka. Aturan-aturan syariat mengenai wanita lebih dipandang sebagai ketentuan yang diskriminatif. Sebenarnya, ada apa dengan wanita? Benarkah selama ini Islam memperlakukan mereka secara tidak adil?

Sudah sering kali dijelaskan bahwa posisi wanita dalam Islam sungguh sangat mulia. Keberadaannya sebagai partner laki-laki sangatlah vital. Sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan, bahwa kemajuan suatu bangsa tergantung dari keberadaan wanitanya.

Dan para musuh Islam sadar akan potensi ini, untuk merusak moral umat Islam mereka memanfaatkan wanita sebagai umpan dan lahan perjuangan. Mereka berusaha melalui berbagai cara agar wanita jauh dari aturan agama Islam. Dan gerakan emansipasi adalah salah satu bentuk perjuangan mereka yang sangat ampuh dan selalu dikampanyekan.

Emansipasi adalah, kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam semua lini kehidupan. Menurut mereka, Islam pilih kasih dalam memperlakukan wanita. Aturan syariah seperti masalah batasan aurat, tanggung jawab keluarga, perwalian, ketentuan waris dinilai diskriminatif dan tidak adil. Bahkan ayat al-Quran dan hadis yang menjelaskan masalah wanita dianggap bermuatan misoginis (membenci wanita).

Sejatinya, emansipasi merupakan ide yang berasal dari sistem sekuler barat sebagai bentuk perlawanan atas penindasan wanita di barat (Eropa). Penindasan itu dianggap akibat adanya perbedaan/pembedaan dan ketidak setaraan perempuan dan laki-laki. Untuk menghilangkan penindasan itu, laki-laki dan perempuan harus setara dan disamakan, dan tidak boleh ada diskriminasi. Dan begitulah baru dianggap adil.

Namun, kemudian ide ini di adopsi oleh kaum liberalis untuk di terapkan di dalam Islam. Mereka menganggap, kemajuan yang telah dicapai oleh barat patut ditiru. Sehingga, kondisi umat Islam tidak lagi jumud dan terbelakang.

Sepintas tujuan gerakan ini terdengar indah, karena mereka ingin membebaskan wanita dari bentuk perbudakan dan ketidak adilan. Namun sejatinya mereka tidak ingin membebaskan wanita dari kezaliman tetapi justru sesungguhnya mereka ingin bebas menzhalimi wanita.

Sebab, gerakan emansipasi ini akan merusak kaharmonisan keluarga. Perempuan didorong lebih banyak berkiprah di ruang publik dan berkarir yang akan menambah beban bagi perempuan sendiri. Salah satu lembaga studi di Eropa menemukan fakta, bahwa depresi perempuan di Eropa naik dua kali lipat selama 40 tahun terakhir karena ‘beban luar biasa’ akibat kesulitan menyeimbangkan peran mengurus rumah, merawat anak dan karir.

Pandangan Islam

Dalam Islam, wanita dan laki-laki, dalam beberapa hal, ditempatkan dalam posisi yang berbeda sesuai dengan tabiat dan fitrahnya di dalam masyarakat. Perbedaan ini diciptakan bukan untuk mendiskriminasikan perempuan tetapi demi harmonisnya peran masing-masing. Hikmah pembedaan hukum yang berkaitan pada perempuan sejatinya adalah perlindungan terhadap kehormatan dan kesucian mereka. Maka Allah melarang untuk iri atas perbedaan itu.

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿٣٢﴾

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian dari yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS an-Nisa’ [4]: 32)

Maka, musibah besar bagi umat Islam apabila para petinggi negara ini mensahkan rancangan undang-undang keadilan dan kesetaraan bagi perempuan. Seperti yang telah terjadi pada negara-negara sekuler di barat.

RUU ini memang agak sepi dari pemberitaan media, padahal ini menyangkut akidah dan banyak orang yang tidak paham tentang bahayanya. Kita wajib menolaknya. Bahkan harus lebih besar dari penolakan kita pada kenaikan BBM. (BS_72).

Pos ini dipublikasikan di Muslimah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s