Teladani Nabi Melalui Semangat Hijrah

Di tahun baru hijriyah ini ada tonggak sejarah yang harus kita perhatikan dan pertahankan. Yaitu hijrahnya Nabi dan para Sahabat dari Makkah menuju Madinah sejauh 480 KM. Di situlah tampak sifat kepemimpinan Rasulullah dan di situlah pula kita harus mengikuti jejaknya. Di saat hijrah itu kita melihat betapa beratnya para Sahabat di dalam mempertahankan Islam. Di sebutkan dalam al-Qur’an bahwa apabila anakmu, istrimu, dan hartamu lebih dicintai daripada Allah, Rasul, dan berjihad, sungguh Allah akan menimpakan azab kepada mereka. Alangkah beratnya para Sahabat waktu itu. Demi agama mereka rela meninggalkan keluarga, harta, dan kampung halamannya.

Di situlah tampak kehebatan Rasulullah e di dalam memimpin, para Sahabat disuruh berangkat tidak bergerombol karena khawatir terhadap gangguan orang kafir. Banyak sahabat yang mau berangkat bersamanya, tapi Nabi menolak. Sebab kalau Sahabat berangkat bersamanya mereka juga ikut dikejar-kejar oleh orang kafir. Rasulullah hanya berangkat berdua bersama sahabat Abu Bakar.

Demikian ini Nabi memberikan contoh di dalam memimpin. Sebab Saudara juga calon pemimpin, minimal pemimpin bagi diri sendiri. Kalian mondok tujuannya adalah untuk menghukumi diri kalian sendiri, kalau mampu untuk keluarga, tetangga, dan semua orang. Itulah cita-cita santri. Jadi kita mencari ilmu di pondok ini tidak semata-mata ingin menjadi kiai, tapi untuk menjadi khairunnâs anfauhum linnâs, manusia yang memberikan manfaat kepada semua umat. Adapun oleh Allah kita diberi pangkat kiai, ustadz, dan gelar lainnya itu terserah Allah. Pangkat di dunia tidak menjamin kebahagiaan di akhirat. Yang penting kita sudah berusaha menjadi manusia yang paling bermanfaat.

Untuk bisa begini, bagaimana caranya? Kita belajar pada kesulitan para Sahabat, baik yang berupa fisik ataupun batin. Sesampainya di Madinah mereka tidak punya harta dan menjadi ahlush-shuffah, yakni penghuni emperan masjid. Padahal sebelumnya mereka kaya raya. Alangkah beratnya perjuangan para Sahabat waktu itu. Itulah yang harus kita teladani.

Untuk menghibur mereka, Rasulullah mengadakan mu’âkhât, yaitu mengikat tali persaudaraan antara Sahabat Anshar dan Muhajirin yang dibaiat langsung oleh Nabi. Ada kejadian unik yang terjadi di antara Sahabat Anshar dan Muhajirin setelah Rasulullah mengikat mereka dalam tali persaudaraan. Ada Sahabat Anshar yang memiliki dua kebun dan dua istri, kamudian ditawarkan kepada Abdurrahman bin Auf untuk diambil mana yang dikehendaki dari keduanya. Ini menjadi tanda tingginya rasa persaudaraan di antara mereka. Sampai pada harta yang paling berharga sekalipun rela ditawarkan kepada orang lain.

Pada waktu yang lain, ada Sahabat Anshar yang mendatangi Sahabat Muhajirin dengan membawa kepala kambing untuk disadaqahkan kepada Ashab Suffah. Mereka menemukan Ashab Shuffah yang berpenampilan lusuh dan lemah, lalu ditawarkan kepala kambing itu untuk dimakan. Namun apa jawabannya, “Jangan berikan kepada saya, kepada yang lain saja.” Kemudian dipindah pada Sahabat yang lain, namun Sahabat ini mendapatkan jawaban yang sama seperti yang pertama. Kemudian ditawarkan kepada Sahabat yang lain dan begitu seterusnya, sampai Sahabat yang pertama tadi pingsan sebab menahan rasa lapar.

Herannya adalah, kenapa mereka mengalah padahal mereka sendiri sedang lapar? Inilah hasil pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah yang menekankan mereka untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat. Contoh-contoh seperti inilah yang harus kita teladani pada masa sekarang. Bagaimana caranya? Tentu tidak harus berupa masyaqah seperti dulu. Tapi dengan cara memasarkan ilmu-ilmu agama. Mungkin kalau kita melihat kondisi seperti di pondok ini tidak begitu merasa, tapi masyarakat di luar sudah enggan mempelajari ilmu agama. Para orang tua beralasan, karena anaknya sudah tidak mau sekolah. Setelah anak mereka lulus pendidikan SD kemudian melanjtukan pada sekolah SMP, sekolah agamanya ditinggal. Ini adalah fakta yang benar-benar terjadi. Jadi, kita harus memperjuangkan tegaknya ilmu agama, sebab semakin hari ilmu agama makin ditinggalkan.

Ada dua Hadis yang cukup untuk kita jadikan pegangan dalam hal ini.

Pertama,

الْعِلْمُ حَيَاةُ الْإِسْلاَمِ وَعِمَادُ الْإِيْمَانِ

Ilmu agama adalah kehidupan Islam dan sebagai tiang penyangga iman.

Ilmu agamanya kurang, ya tidak sempurna dan imannya tidak kuat. Apa mau dibiarkan apabila iman umat ini tidak kuat? Padahal sekarang banyak faham-faham menyimpang yang tersebar. Seperti, Syi`i, prularisme, liberalisme, dan yang lain.

Kedua,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan diberi pemahaman dalam agama. Dari sini jelas, bahwa untuk menjadi orang baik adalah dengan melalui ilmu agama tidak dengan ilmu yang lain. Mengapa demikian? Sebab ilmu agama berhubungan langsung dengan iman dan ibadah. Dengan ini kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Tapi bagaimana dengan orang kafir yang kehidupannya kaya dan bahagia? Itu dikhawatirkan sebagai istidraj dari Allah. Tidak seperti kebahagiaan yang diperoleh sebab ilmu agama, kebahagiaan yang diperoleh dengan cara ini akan kekal. Buktinya adalah derajatnya ulama. Masih muda mereka dihormati semakin tua mereka semakin dihormati dan begitu seterusnya. Jadi, kalau kita sudah menjadi orang yang beriman dan beramal baik insyaallah akan tergolong pada golongan yang fîddunyâ hasanah wa fîlkhirati hasanah. Di dunia akan mendapatkan barakah dari ibadah yang dilakukan, sedangkan di akhirat akan mendapatkan pahala. Disebutkan dalam al-Qur’an, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”  Itu yang dinamakan kehidupan barakah. Dan ini bekalnya ilmu agama.

Dan perlu di ingat bahwa ilmu agama berbeda dengan ilmu yang lain. Cara mencarinya itu susah dan memang ini telah dicontohkan oleh Malaikat Jibril di saat memberikan wahyu pertama kepada Rasulullah. Nabi tidak bisa membaca namun oleh Malaikat Jibril tidak dibiarkan. Nabi langsung dirangkul dengan sekuat tenaga dan ini terus berulang, hingga ketiga kalinya Nabi bisa membaca. Ini menandakan bahwa belajar ilmu agama itu sulit, melalui proses dan harus tirakat. Untuk mendapatkan ilmu Nabi harus bertirakat di gua Hira selama 40 hari. Begitu beratnya Nabi untuk mendapatkan derajat nubuwwah dan wahyu. Imam Ghazali untuk mendapatkan derajat tasawuf dan alim fikih juga harus bertirakat di dalam masjid berbulan-bulan. Semuanya harus melalui tirakat.

Karenanya, dengan semangat tahun baru hijrah ini, kita tambah semangat dalam mencari ilmu seperti yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita.

 *) Ditranskip dari ceramah agama KH. Muzakki Birrul Alim pada acara Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1432 di Pondok Pesantren Sidogiri. Artikel ini dimuat di Buletin sidogiri Edisi_66.

 

Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s