Sukses dengan Managemen Diri

Kerap suatu saat kita mengeluh susah, gundah, dan tidak semangat dalam menjalani hidup ini. Semuanya terasa hambar dan serba membosankan. Anehnya, kadang kita sendiri bingung terhadap apa penyebab dari semua itu. Yang pasti adalah, ketika kondisi diri sudah labil, maka kita jadi malas beraktivitas sehingga hidup ini menjadi tidak teratur.

Di antara penyebab terbesar dari datangnya kondisi ini adalah tidak adanya pengaturan hidup secara baik. Yakni, aktivitas keseharian kita semuanya berjalan dengan datar tanpa ada target dan tujuan yang jelas. Sehingga kita sendiri bingung, mau kemana, untuk apa, dan bagaimana hidup ini. Untuk itu, kami paparkan kiat mendefinisikan tujuan hidup yang kami ringkas dari kitab Hattâ Lâ Takûna Kallan `Alân-Nâs Tharîquka ilât-Tafawwuqi wan Najâh  karya Dr.`Awadh Al-Qarni.

Pertama, jangan membiasakan diri melakukan aktivitas yang tidak didasari oleh tujuan. Semua aktivitas ini harus ada muara yang dituju. Buatlah tujuan secara sistematis dengan mendahulukan aktivitas yang lebih penting. Hasan al-Bashri pernah berkata tentang Umar bin Abdul Aziz t, “Saya tidak pernah menyangka bahwa saat Umar melakukan sesuatu pasti ada tujuan yang menyertainya.” Bila kita telah membiasakan diri dengan cara ini, niscaya kehidupan ini akan berjalan dengan teratur dan terencana secara spontanitas.  Kehidupan yang menolak kesemrawutan, tidak dikuasai oleh kekosongan, dan tidak menghilangkan waktu secara percuma.

Kedua, memperhatikan fasilitas yang tersedia di saat menentukan tujuan. Setelah itu rumuskan tujuan sesuai dengan fasilitas yang tersedia. Misalnya, saat akan terjun dalam dunia bisnis, maka kita harus memperhatikan jumlah modal yang harus diinvestasikan. Kemudian tentukan jenis bisnis yang akan dijalani sesuai dengan jumlah modal investasi yang disiapkan.

Ketiga, menyesuaikan dengan waktu yang tersedia. Jangan sampai tujuan yang semestinya bisa diraih dengan waktu singkat kita raih dengan waktu yang sangat lama. Misalnya, mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikan dalam waktu empat tahun. Namun karena ia santai, maka baru bisa selesai hingga delapan tahun. Tidak ada kerugian yang lebih besar dari hilangnya waktu, karena ia takkan tergantikan oleh waktu lainnya.     

Keempat, target yang ingin dicapai harus berlandaskan syariat. Jangan sedikitpun terlintas dalam pikiran kita untuk merencanakan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Semuanya itu tidak berguna dan hanya mendapat murka Allah I.

Kelima, tujuan yang direncanakan terdefinisikan dengan jelas, tidak kabur dan samar-samar. Tujuan yang tidak dirumuskan dengan jelas membuat apa yang dikehendaki sulit tercapai.

Keenam, membuat program kerja. Setiap tujuan pasti ada peluang untuk mencapainya. Namun jika tidak menjelaskan jalan yang dilalui untuk meraihnya, maka ia tak lebih dari sebuah rencana dan angan-angan belaka. Jadi untuk merealisasikan tujuan besar harus disertai dengan program kerja sebagai jalan untuk meraihnya.

Ketujuh, setelah tahapan di atas sudah terpenuhi semua, langkah selanjutnya adalah menentukan arah pelaksanaan dan pengawasan, serta membuat standar kemajuan atas setiap yang diraih. Setiap kita berusaha untuk mencapai tujuan pasti bertemu dengan banyak rintangan. Dalam keadaan demikian, kita didorong untuk memodifikasi beberapa program yang telah direncanakan dan meninjau ulang tahapan-tahapan tujuannya. Kita harus yakin bahwa usaha yang kita kerjakan akan berhasil.

Kedelapan, langkah selanjutnya adalah membagi sasaran umum ke dalam sasaran yang lebih khusus. Setiap capaian pada sasaran khusus akan mendekatkan kita ke arah pencapaian umum. Sehingga sasaran umum itu dapat terealisasi dengan tercapainya sasaran khusus.

Kesembilan, sasaran yang ingin dicapai hendaknya merupakan kebutuhan dan menjadi prioritas utama dari aktivitas lain yang dilakukan. Jangan sampai kita terjebak pada pemuasan nafsu belaka dengan mendahulukan apa yang seharusnya ditunda dan menunda apa yang seharusnya didahulukan. Ketika kita terbiasa dengan rutinitas yang seperti ini, maka hanya kesulitan yang akan di peroleh, hingga menghabiskan waktu yang tersedia pada aktivitas yang sia-sia dan remeh. Padahal kita punya potensi untuk menjalani aktivitas yang lebih berguna baik di dunia maupun di akhirat.

Demikian sedikit cara yang bisa dijadikan patokan di dalam merumuskan tujuan hidup. (BS_66)


Pos ini dipublikasikan di Tips. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s