MMU Ibtidaiyah; Targetkan Mampu Membaca dan Memahami Kitab

MMU Ibtidaiyah adalah lembaga pendidikan klasikal pertama di PPS. Didirikan pada 14 Shafar 1357 H atau 15 April 1983 M di era KH. Abd. Djalil bin Fadil menjadi pengasuh. Seiring semakin bertambahnya jumlah santri waktu itu dan tidak semua dari mereka bisa mengikuti pengajian kepada pengasuh, maka didirikanlah Madrasah Ibtidaiyah sebagai bekal awal bagi santri untuk kemudian mengaji kepada pengasuh. (Sejarah lengkapnya baca: Buletin SIDOGIRI edisi 64).
Sebagai Madrasah Diniyah salaf, kurikulum yang dipakai di tingkatan ini murni pelajaran agama dengan menggunakan kitab peninggalan ulama abad pertengahan Islam. Seperti Fathul-Qarîb untuk fan fikih, Matn Kifâyatul-Awâm untuk fan Tauhid, dan Nadzam Alfiyah Ibnu Mâlik untuk fan Nahwu. Terkecuali kelas III dan IV yang masih ditambah pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika.
Madrasah Ibtidaiyah terdiri dari tujuh tingkat; kelas shifir (nol) dan kelas I sampai VI. Sementara KBM-nya dilaksanakan pagi hari mulai pukul 07.30 sampai 12.10 Wis yang terbagi menjadi enam jam pelajaran dengan dua kali waktu istirahat.
Target pendidikan di MMU Ibtidaiyah adalah murid mampu membaca dan memahami kitab pelajarannya sendiri. Karenanya, di luar upaya yang dilakukan oleh masing-masing wali kelas, pengurus madrasah menetapkan beberapa program pendukung guna meningkatkan kemampuan para murid dalam hal membaca dan memahami kitab.
Program tersebut adalah pembinaan baca kitab yang secara kontinyu dilaksanakan tiap malam selain malam Selasa dan malam Jumat. Pembinaan ini selain melibatkan wali kelas juga melibatkan sejumlah tenaga pembimbing yang diangkat secara khusus. Program ini terlaksana melalui kerja sama dengan bagian Taklimiyah PPS, TTQ (Taklimiyah wa Tahfizh al-Qur’an).
Program pendukung yang lain adalah menjadikan nilai ujian membaca kitab sebagai persyaratan naik kelas untuk kelas V dan syarat lulus Imni (ujian akhir) untuk kelas VI, sehingga para murid terdorong untuk lebih memperhatikan kemampuan baca kitab mereka.
Sementara untuk meningkatkan pemahaman terhadap kitab, dilaksanakanlah program musyawarah kelas setiap hari kecuali hari Jumat. Dimulai pukul 05.00 hingga 05.50 Wis. Program ini diawasi langsung oleh wali kelas dengan teknis dan metode beragam sesuai kreativitas gurunya masing-masing. Seperti diskusi kelompok, demonstrasi, atau presentasi.
Selain musyawarah di madrasah, ada pula musyawarah usbuiyah khusus santri tingkat Ibtidaiyah yang dilaksanakan tiap hari Jumat pagi pada pukul 05.30 sampai 07.00 Wis dan pelaksanaannya ditangani oleh bagian Taklimiyah. Musyawarah usbuiyah ini diformat menurut kelompok sesuai daerah (asrama) santri.
Dalam musyawarah model ini suatu permasalahan dibahas layaknya bahtsul masail dan materi pembahasan difokuskan pula pada fan Nahwu dan Shorof serta pemahaman terhadap ibarah (teks) kitab. Program ini dibimbing oleh para santri senior yang sekaligus menjadi mushahhihnya.
Murid tingkat Ibtidaiyah memang menjadi perhatian serius pengurus PPS dalam hal kemampuan membaca dan memahami kitab. Sedapat mungkin mereka diupayakan bisa membaca dan memahami kitab pelajarannya sendiri sebelum naik ke tingkat Tsanawiyah.
Selain itu, MMU Ibtidaiyah juga menjadi madrasah induk yang mengkoordinir seluruh madrasah ranting yang hingga saat ini berjumlah 111 dan tersebar di daerah Jawa dan Madura. Berkaitan dengan madrasah filial ini insyaallah akan dibahas pada edisi selanjutnya.  (BS_68)

Pos ini dipublikasikan di Kabar SIDOGIRI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s