Masa Keemasan Islam Masa keemasan Buku *)

Buku adalah lambang kemajuan, ibu peradaban dan kebudayaan. Kecintaan orang Islam pada buku serta ilmu pengetahuan sebenarnya telah muncul sejak kelahiran agama Islam itu sendiri. Banyak ayat al-Qur’an yang berisi anjuran agar umat Islam mendayagunakan pikirannya dan menumbuhkan ilmu pengetahuan untuk keperluan manusia selaku khalifah di muka bumi. Seruan untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, juga ditemui dalam banyak Hadis Nabi. Agama Islam sendiri dalam perjalanan sejarahnya merupakan apa yang secara konsisten mempertahankan diri sebagai agama berdasarkan kitab, yang demikian menegaskan perlunya umat Islam mengembangkan budaya baca-tulis.

Renainsans Islam

Ketika kekhalifaan Islam di Baghdad berada dalam masa keemasaan, dunia perbukuan mengalami perkembangan pesat. Kota Seribu Satu Malam ini bukan saja merupakan pusat penerbitan buku, tetapi juga pusat penulisan risalah ilmiah, sastra, dan filsafat. Perpusatakaan dijumpai di mana-mana dengan koleksi buku yang melimpah. Begitu pula pengunjung tetap perpustakaan dan kelompok pecinta buku.

Khalifah Abbasiyah mendirikan khizanah al-Hikmah, sebuah pusat keilmuan dan perpustakaan besar. Berkat kecintaan Khalifah pada buku, lembaga ini berkembang pesat. Ratusan manuskrip dalam berbagai bahasa, berisi teks berbagai ilmu pengetahuan, sastra, dan filsafat, berhasil dikumpulkan dari berbagai negeri. Ribuan koleksi non-Arab berhasil diterjemah kedalam bahasa Arab. Sampai pertengahan abad ke-19, koleksi buku lembaga ini mencapai kurang lebih satu juta. Pada tahun 830 M, Khalifah al-Makmun, seorang pecinta buku yang dikelilingi para ilmuan, mengembangkan lembaga ini menjadi sebuah lembaga pendidikan terkemuka. Namanya pun diubah menjadi Bayt al-Hikmah (Balai Imu Pengetahuan).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ilmu dan penulisan buku berkembang pesat pada waktu itu. Ahli sejarah Islam mencatat di antara faktor-faktor itu ialah: Pertama, adanya hubungan yang dinamis antara kebudayaan Arab dengan kebudayaan lain yang telah maju sebelum datangnya agama Islam, misalnya Mesir, Babylonia, Yunani, Persia, dan Cina. Kedua, sejak abad ke-9 M, di negeri-negeri Islam telah tumbuh pusat-pusat kebudayaan yang satu dengan yang lain saling berlomba-lomba mengembangkan kebudayaan dan ilmu pengetahuannya. Misalnya, Madinah, Mekah, Baghdad, Cordova, Kufah, Basrah, dan lainnya. Ketiga, raja Muslim, bangsawan kaya, saudagar-saudagar dan mentri yang berpengaruh memberi sokongan dana yang melimpah bagi perkembangan tersebut. Keempat, terdapat kebebasan berpikir dan perbendapat yang dijamin oleh undang-undang. Walaupun pendapat-pendapat yang dikemukakan sering bertentangan dengan pandangan resmi kerajaan, namun pendapat dan gagasan yang bernash dibiarkan tumbuh. Sedangkan pemikiran dan pendapat yang tidak berdasar dan dangkal mendapat kritikan keras. Pada masa itu di berbagai pelosok negeri Islam terdapat pecinta buku. Pemerintah dan swasta berlomba-lomba mendirikan perpustakaan.

Faktor yang tidak kalah penting ialah terbongkarnya rahasia pembuatan kertas di Cina melalui tawanan-tawanan Cina di Samarkand dalam beberapa pertempuran antara Baghdad dan Cina. Setelah cara pembuatan kertas dipelajari secara mendalam, serta dilakukan percobaan berulang kali. Maka, orang-orang Islam pun segera dapat membuat kertas dengan teknik yang setara dengan teknik yang dimiliki orang-orang Cina. Pada tahun 800 M, Harun al-Rasyid meresmikan pembangunan pabrik kertas pertama terbesar di luar Cina. Ringkasnya, priode ini adalah renainsans (masa kebangkitan) bagi umat Islam. Terutama dalam bidang ilmu pengetahuan.

Renaisans Eropa

Bersamaan dengan itu, kondisi di luar Islam terutama di Eropa, sedang mengalami masa kegelapan (Dark Ages). Bangsa Eropa berada dalam keterbelakangan di bawah tradisi gereja yang konservatif. Pada abad XI Eropa mulai menyadari ada peradaban Islam yang lebih maju di Timur, mereka berusaha mengambilnya. Melalui jalur Spanyol, Sisilia dan pelarian-pelarian orang perang Salib. Peradaban Islam sedikit demi sedikit di bawa ke Eropa. Inilah yang menyebabkan timbulnya renaisans Eropa yang kemudian membawa perubahan dan kemajuan perabadan Barat sampai sekarang.

Sebaliknya Islam mengalami titik balik dari masa kejayaan dan jatuh pada degradasi yang komplek. Itu terjadi ketika umat Islam mengalami pernyerbuan dari Timur dan Barat. Dari timur Baghdad diserbu oleh Hulagu pada tahun 1258 M. Di Barat Toledo jatuh pada tahun 1085 M, Cordova menyusul pada tahun 1236 M, selanjutnya Sevilla pada 1248 M. Di wilayah bagian tengah mencakup Syiria dan Mesir mendapat serang perang Salib. Serangan yang berlangsung selama dua abad lamanya itu, banyak memakan korban, baik jiwa, harta, dan peradaban Islam. Kajian-kajian keilmuan tidak lagi semarak masa sebelumnya. Kekuatan Islam semakin menurun baik dalam bidang militer, ekonomi, dan budaya. Bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa formal, namun hanya sebagai bahasa ritual keagamaan saja. Ilmu pengetahuan mengalami stagnansi. Dalam waktu singkat, kebudayaan Islam bangkit kembali, namun wilayah yang pernah menjadi pusat dunia Islam dipegang oleh bangsa non-Muslim, bahkan Islam berangsur-angsur hilang dari Andalus (Spanyol).

 Kesimpulan

Di abad modern ini, praktis dunia Islam menjadi importir dalam segala hal terutama dalam tekhnologi dan sains dengan segala implikasi positif dan negatifnya. Hal ini sangat kontras dengan realitas sejarah yang menggambarkan umat Islam sebagai umat yang maju, mandiri, dan aktif-produktif. Untuk menumbuhkan spirit renaisans pada umat Islam saat ini, hendaknya kita tidak menutup mata akan pentingnya belajar pada kemajuan yang dicapai oleh Barat, yang tentunya bukan dalam ideologi dan idealismenya, tapi dalam semangat, kedisiplinan dan etos kerja. Bukankah Barat (Eropa) maju setelah melepaskan diri dari gereja yang konservatif? Sedang umat Islam bisa maju justru apabila kembali pada ajaran-ajaran agamanya yang sesuai dengan fitrah manusia yang cenderung ingin berkembang dan maju. Kita bisa memulai dengan menumbuhkembangkan kembali tradisi-tradisi keilmuan, budaya baca-tulis, diskusi kritis, dan produksi buku, seperti yang dicontohkan pendahulu kita. Dalam hal ini, saya sangat bersyukur dan bangga pada upaya Pondok Pesantren Sidogiri yang menjadikan perpustakaan sebagai salah satu instansi prioritas pesantren dan sekarang menjelma menjadi perpustakaan pesantren terbesar dan terlengkap di Jawa Timur, bahkan mungkin se-Indonesia. Wallâhu A’lâm.[]

*) Artikel ini dimuat di Majalah Ijtihad Pondok Pesantren Sidogiri, Edisi 31(Syaban-Shafar 1430).

Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s