Sidogiri, Ada Apa Denganmu?? (Refleksi singkat tentang kondisi riil Pondok Pesantren Sidogiri saat ini)

Jauh sebelum saya menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Sidogiri, otak saya sudah disesaki dengan beragam informasi tentang superioritas Sidogiri. Mulai dari kopontrennnya, kesalafannya, konsistensinya, barokahnya sampai pada tradisi tulis-menulis santrinya yang mengakar kuat. Sungguh kegaguman saya memuncak waktu itu.

Setelah saya mulai menginjakkan kaki di Sidogiri, apa yang saya kagumi itu memang benar-benar riildan tampak nyata. Saya merasa berada di pusaran keilmuan yang diri ini tidak berarti apa-apa. Begitu bodoh dan kecil. Begitu mudahnya waktu itu saya menemukan santri yang pintar baca kitab, hafalAlfiyah ibn Malik dan begitu mudahnya pula saya menemukan kelompok diskusi kitab kecil-kecilan di jerambah-jerambah asrama. Sungguh, melihat Sidogiri beberapa dekade yang lalu, saya serasa di bawa pada era keemasan Islam di adab pertengahan silam.

Kini, alhamdulillah semua itu masih saya rasakan. Meski dalam nuansa yang berbeda dan dengan intensitas yang kian membingungkan. Sidogiri yang ada di benak saya saat ini seakan berupa wujud Sidogiri lain. Meski, yang perlu saya tegaskan, apapun kondisinya, Sidogiri tetaplah Sidogiri yang penuh dengan ragam misteri. Seperti yang sering ditegaskan, bahwa keberhasilan Sidogiri dalam mendidik santrinya tidak bisa diasumsikan secara matematis melalui akal. Ada faktor X yang ikut nimburg dalam proses pendidikan santrinya.

Tapi, perkenankanlah saya berbicara secara objektif tentang lembaga tercinta ini. Bahwa sejujurnya, kita melihat Sidogiri sama seperti seperti melihat gunung dari tempat yang nun jauh di sana. Yang rindang, sejuk, indah dan mendamaikan. Kita akan sadar pada fakta yang sebenarnya, ketika pandangan mata mulai mendekat. Bahwa di balik pepohonan hijau yang indah itu, terdapat lereng tebing yang terjal dan penuh bebatuan. Terdapat bermacam-macam spesies hewan yang mematikan. Bahkan yang sering tidak disadari, gunung yang tampak tenang itu ternyata aktif yang sewaktu-waktu bisa meletus dan menumpahkan laharnya tanpa di diduga sebelumnya.

Maksudnya adalah, bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki dari (orang) Sidogiri ini. faktor barokah, misteri dan entah apa lagi, tidak bisa kita jadikan justifikasi untuk membenarkan tingkah laku kita yang kian tidak menentu arah. Wajah Sidogiri yang sudah lumayan cantik dan anggun di mata dunia ini tidak perlu lagi kita rusak dengan ego pribadi.

Secercah cahaya memberikan harapan baru untuk Sidogiri ke depan. Kita mesti menyambut baik usaha pengurus yang telah dilakukan di awal pelajaran tahun ini. Seperti tambahan jurusan di tingkat MA, program prestesius i`dadiyah, larangan merokok untuk santri tingkat Tsanawiyah dan program-program prospektif yang lain. Semua usaha ini adalah demi terus meningkatkan kualitas keilmuan santri.

Tidak ada kata terlambat. Tidak ada istilah menyerah. Tidak ada lagi sifat pesimis. Dunia masih terbuka dan menunggu kita untuk memasukinya.  Lets go!.

Sidogiri, 10 Oktober 2012

Dipublikasi di Catatan Ringan | Tag | Meninggalkan komentar

Tentang “Bongkar Kebiasaan Lama”…

Belakangan ini saya tertarik dengan slogan salah satu iklan kopi yang lagi gencar-gencarnya berpromosi, yaitu “Bongkar Kebiasaan Lama”. Jujur, saya salut dengan usaha produk ini yang begitu gencarnya melakukan pengenalan produknya. Mereka jor-joran melakukan promosi baik di media elektronik atau massa. Bahkan tidak jarang mata kita sering berpapasan dengan banner atau baliho besar di sepanjang jalan raya bertuliskan “Bongkar…” dengan Iwan Fals sebagai ikon utama iklan ini.

Saya nilai, iklan ini sudah cukup berhasil mempengaruhi opini masyarakat tentang entitas sebuah kopi instan. Bahwa dalam hal kopi sekalipun kita harus membongkar sebuah kebiasaan lama. Tentu, maksud dari iklan ini adalah membongkar kebiasaan kita dalam mengkonsumsi kopi untuk akhirnya beralih pada kopi “Top” yang mereka promosikan. Dan tentu pula, bukan ini maksud saya menulis catatan ini.

Apabila dalam hal remeh sema  cam kopi saja kita harus membongkar kebiasaan lama, apalagi dalam hal lain yang lebih penting dari sebuah seduhan kopi itu. Meski harus dipahami, bahwa kebiasaan itu ada dua, positif dan negatif. Saya tegaskan, ini adalah momen bagi kita untuk berpikir sejenak tentang apa yang selama ini kita jalani di pondok tercinta ini. Tentang segala hal dan apa saja yang ada dalam diri kita. Gaya hidup, belajar, bergaul, beribadah, mengobrol, beretika, dan bahkan dalam model mandi sekalipun.

Bahwa … sudah saatnya kita membongkar kebiasaan tidak baik dari semua itu dan membangun kembali dengan modal pondasi yang lebih kokoh dan terarah. Persis seperti apa yang dikatakan Iwan Fals dalam iklan kopinya itu.

Anda bisa merekam kembali jejak langkah yang selama ini sudah terjalani, di manakah dari rentetan sejarah hidup itu yang mesti dan harus kita bongkar? Tentu anda yang lebih tau. Hanya yang perlu saya tegaskan adalah, bahwa sebenarnya kita benar-benar bodoh apabila cara-cara negatif dan tidak produktif dalam proses hidup kita itu masih dipertahankan.

Slogan “Bongkar” ini mestinya tidak kita ucapkan pada hal-hal yang sudah mapan. Hanya orang bingung yang biasanya melakukan hal itu. Dalam hal baik bukan kalimat bongkar yang harus kita kampanyekan. Saya cenderung suka menggunakan kalimat revolusi, evolusi dan transformasi dalam hal yang sudah mapan itu.

Dan hingga kini, kalimat yang keluar dari mulut Iwan Fals itu benar-benar berhasil mendongkrak angka penjualan produknya itu. Dan bahkan slogan inspiratifnya itu tidak hanya digunakan dalam ‘bab’ kopi saja, tapi dalam hal lain istilah bongkar juga sering kita ucapkan.

Selanjutnya, menjadi tugas kita semua untuk merefleksikan istilah ini dalam ranah yang lebih mendunia. Agar angka peningkatan kualitas hidup kita ini juga ikut terdongkrak, seperti keberhasilan yang telah di capai Iwan Fals dengan produk kopinya itu. Selamat membongkar…. []

Sidogiri, 25 Oktober 2012

Dipublikasi di Catatan Ringan | Tag | Meninggalkan komentar

MEWASPADAI TOPENG EMANSIPASI

Belakangan ini, DPR sedang kencang-kencangnya membahas RUU (Rancangan Undang-Undang) Kesetaraan dan Keadilan Gender. Pemerintah mengusulkan agar RUU ini dijadikan hukum positif di Indonesia, seperti di negara-negara lain, khususnya di barat. Kontan saja, ide ini mendapat sorotan dan menuai protes dari berbagai kalangan praktisi maupun ormas-ormas Islam.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa usaha musuh Islam untuk menghancurkan generasi bangsa melalui wanita masih belum usai. Mereka berlagak seolah-olah sebagai penyelamat wanita dari perbudakan dan ketidak adilan. Namun, sejatinya di balik topeng emansipasi yang mereka perjuangkan terdapat maksud tersembunyi yang sangat berbahaya.

Ada Apa Dengan Wanita?

            Sering kali, pembahasan wanita disandingkan dengan isu-isu persamaan hak, keadilan, emansipasi dan penindasan atas nama agama. Sehingga, timbul kesan seolah-olah agama Islam tidak adil memperlakukan mereka. Aturan-aturan syariat mengenai wanita lebih dipandang sebagai ketentuan yang diskriminatif. Sebenarnya, ada apa dengan wanita? Benarkah selama ini Islam memperlakukan mereka secara tidak adil?

Sudah sering kali dijelaskan bahwa posisi wanita dalam Islam sungguh sangat mulia. Keberadaannya sebagai partner laki-laki sangatlah vital. Sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan, bahwa kemajuan suatu bangsa tergantung dari keberadaan wanitanya.

Dan para musuh Islam sadar akan potensi ini, untuk merusak moral umat Islam mereka memanfaatkan wanita sebagai umpan dan lahan perjuangan. Mereka berusaha melalui berbagai cara agar wanita jauh dari aturan agama Islam. Dan gerakan emansipasi adalah salah satu bentuk perjuangan mereka yang sangat ampuh dan selalu dikampanyekan.

Emansipasi adalah, kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam semua lini kehidupan. Menurut mereka, Islam pilih kasih dalam memperlakukan wanita. Aturan syariah seperti masalah batasan aurat, tanggung jawab keluarga, perwalian, ketentuan waris dinilai diskriminatif dan tidak adil. Bahkan ayat al-Quran dan hadis yang menjelaskan masalah wanita dianggap bermuatan misoginis (membenci wanita).

Sejatinya, emansipasi merupakan ide yang berasal dari sistem sekuler barat sebagai bentuk perlawanan atas penindasan wanita di barat (Eropa). Penindasan itu dianggap akibat adanya perbedaan/pembedaan dan ketidak setaraan perempuan dan laki-laki. Untuk menghilangkan penindasan itu, laki-laki dan perempuan harus setara dan disamakan, dan tidak boleh ada diskriminasi. Dan begitulah baru dianggap adil.

Namun, kemudian ide ini di adopsi oleh kaum liberalis untuk di terapkan di dalam Islam. Mereka menganggap, kemajuan yang telah dicapai oleh barat patut ditiru. Sehingga, kondisi umat Islam tidak lagi jumud dan terbelakang.

Sepintas tujuan gerakan ini terdengar indah, karena mereka ingin membebaskan wanita dari bentuk perbudakan dan ketidak adilan. Namun sejatinya mereka tidak ingin membebaskan wanita dari kezaliman tetapi justru sesungguhnya mereka ingin bebas menzhalimi wanita.

Sebab, gerakan emansipasi ini akan merusak kaharmonisan keluarga. Perempuan didorong lebih banyak berkiprah di ruang publik dan berkarir yang akan menambah beban bagi perempuan sendiri. Salah satu lembaga studi di Eropa menemukan fakta, bahwa depresi perempuan di Eropa naik dua kali lipat selama 40 tahun terakhir karena ‘beban luar biasa’ akibat kesulitan menyeimbangkan peran mengurus rumah, merawat anak dan karir.

Pandangan Islam

Dalam Islam, wanita dan laki-laki, dalam beberapa hal, ditempatkan dalam posisi yang berbeda sesuai dengan tabiat dan fitrahnya di dalam masyarakat. Perbedaan ini diciptakan bukan untuk mendiskriminasikan perempuan tetapi demi harmonisnya peran masing-masing. Hikmah pembedaan hukum yang berkaitan pada perempuan sejatinya adalah perlindungan terhadap kehormatan dan kesucian mereka. Maka Allah melarang untuk iri atas perbedaan itu.

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿٣٢﴾

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian dari yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS an-Nisa’ [4]: 32)

Maka, musibah besar bagi umat Islam apabila para petinggi negara ini mensahkan rancangan undang-undang keadilan dan kesetaraan bagi perempuan. Seperti yang telah terjadi pada negara-negara sekuler di barat.

RUU ini memang agak sepi dari pemberitaan media, padahal ini menyangkut akidah dan banyak orang yang tidak paham tentang bahayanya. Kita wajib menolaknya. Bahkan harus lebih besar dari penolakan kita pada kenaikan BBM. (BS_72).

Dipublikasi di Muslimah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Madrasah Ranting; Berawal dari Sebuah Keprihatinan (1/2)

Di rentang waktu 60an, Pondok Pesantren Sidogiri sudah cukup berkembang dengan sekian banyak santri yang dimiliki dan kelengkapan instrumen lembaganya. Di saat pendidikan klasikal masih jarang dimiliki pesantren, PPS sudah memiliki lembaga klasikal yang mandiri. Baik tingkat Ibtidaiyah atau Tsanawiyah. Bahkan jumlah muridnya sudah mencapai ratusan.

Membludaknya santri dan murid waktu itu membuat ruang-ruang kelas tidak lagi memadai untuk menampungnya. Sehingga terpaksa mereka ditempatkan di masjid, surau bahkan di bilik-bilik santri. Kondisi ini menuntut pengurus untuk mencari solusi terkait dengan masalah kurangnya ruang kelas.

Di saat yang bersamaan, kondisi madrasah diniyah di sekitar PPS justru sangat memperihatinkan. Madrasah yang ada di kampung-kampung sepi peminat dan terus berjalan tanpa ada perubahan. Ditambah lagi kondisi masyarakat sekitar PPS yang waktu itu masih terbelakang dalam hal ilmu agama.

Berawal dari keprihatinan inilah, pada tahun 1961 M KA. Sadoelah Nawawi berinisiatif mengutus beberapa santri seniornya untuk melaksanakan tugas mengajar di madrasah sekitar PPS. Dengan usaha ini, beliau berharap kualitas madrasah itu tambah baik dan maju, sekaligus pula agar guru tugas itu bisa memberikan pemahaman ilmu agama kepada masyarakat.

Dengan terlaksananya penugasan ini, kemudian ada kebijakan dari pengurus untuk membatasi santri yang berasal dari daerah Pasuruan. Mereka yang ingin mondok dianjurkan terlebih dahulu masuk di madrasah yang mengambil guru dari PPS. Baru kemudian melanjutkan di PPS untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi.

Lama berselang, ide penugasan guru itu terus berlangsung dan kian menuai tanggapan positif dari masyarakat. Melihat keberhasilannya, daerah-daerah lain pun mulai banyak berdatangan ke PPS untuk meminta bantuan guru serupa. Hingga akhirnya program ini mulai melebar ke beberapa tempat di daerah Pasuruan. Waktu itu, madrasah yang mengambil guru bantu belum terikat aturan struktur organisasi yang baku, semuanya berjalan sangat sederhana dan apa adanya.

Dengan kian banyaknya respon positif dari masyarakat, maka pada tahun 1403H/1982M diresmikanlah madrasah ranting dengan segenap managemen dan aturan-aturannya. Melalui para Penanggung Jawab Guru Tugas (PJGT), pengurus menyebarkan formulir untuk diisi data madrasah bagi yang berminat menjadi madrasah ranting. Waktu itu madrasah ranting hanya terbatas pada tingkat Ibtidaiyah dan hanya di daerah Pasuruan saja.

Di tahun berikutnya para PJGT banyak yang mengajukan diri untuk membuka madrasah ranting di daerahnya. Permintaan tersebut mendapat respon positif dari pengurus, hingga pada tahun ajaran 1415-1416 H di bukalah madrasah ranting di luar Pasuruan. Madrasah ranting pertama dari luar Pasuruan waktu itu adalah MMU Karang Sari, Robatal, Sampang. Dan pada tahun itu pula madrasah ranting tingkat Tsanawiyah juga mulai dibuka.

Madrasah ranting yang berasal dari daerah Pasuruan disebut tipe A sedangkan dari luar Pasuruan disebut tipe B. Perkembangan terakhir jumlah madrasah ranting tipe A tingkat Ibtidaiyah mencapai 71 madrasah, 9924 murid dan 1013 guru. Sedangkan tipe B berjumlah 43 madrasah, 6150 murid dan 16 guru. Sedangkan untuk tipe A tingkat Tsanawiyah berjumlah 19 madrasah. Dan tipe B berjumlah 15 madrasah. Madrasah filial ini sudah hampir merata di daerah Pasuruan dan tersebar ke berbagai daerah di Jawa Timur.

Hingga kini, keberadaan madrasah ranting sudah mulai banyak dirasakan kemanfaatannya. Harapan besar KA. Sadoelah Nawawi untuk memajukan madrasah diniyah di tengah-tengah masyarakat sudah mulai membuahkan hasil. Meski masih banyak yang perlu diperbaiki dari madrasah ranting ini tapi setidaknya kita patut bersyukur sebab keberadaannya masih tetap diminati oleh masyarakat. (BS_71)

Dipublikasi di Kabar SIDOGIRI | Meninggalkan komentar

OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah); Tempat Tepat Mengasah Bakat

Kreativitas adalah anugerah Allah r  yang perlu disyukuri dengan terus diasah dan selalu dijaga. Membiarkannya sia-sia sama saja dengan mengingkari nikmat itu. Demikian ini disadari betul oleh pimpinan MMU Aliyah, karenanya pada 28 Muharam 1414 H/18 Juli 1993 M dibentuklah organisasi intra yang diberi nama OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah), organisasi murid semacam OSIS di sekolah formal.

OMIM yang lahir di masa Mas H Sholeh Abd Haq menjabat Kepala MMU Aliyah itu benar-benar menjadi tumpuan murid Aliyah dalam mengasah kreativitasnya. Di dalamnya terdapat bermacam-macam murid yang mempunyai kecendrungan dan bakat yang berbeda. Kala itu OMIM dituntunt untuk bisa mengakomodir semua bakat itu dalam satu organisasi intra madrasah.

OMIM ditangani oleh seorang ketua dan beberapa staf yang dipilih secara demokratis oleh semua murid Aliyah. Masa khidmah yang relatif singkat (hanya satu tahun) telah berhasil melecut semangat mereka untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Meski terkadang kondisi ini membuat kualitas OMIM pasang surut. Sebab ketika kepemimpinan OMIM hampir mencapai kematangannya, mereka harus diganti oleh pengurus baru yang tentunya masih pemula dalam berorganisasi.

Secara umum OMIM memiliki empat unit kegiatan: Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI), Unit Kegiatan Pengembangan Bakat dan Minat (UKPBM), Unit Kegiatan Penerbitan Majalah (UKPM), dan Unit Kegiatan Mading (UKM). Masing-masing unit kegiatan ditangani oleh seorang ketua beserta stafnya dengan tata program kerja tersendiri.

UKPI aktif di bidang kajian keilmuan dan intelektual dengan mengadakan kuliah umum dan forum diskusi. Kuliah umum biasa digelar empat kali dalam satu tahun dengan mengangkat tema-tema aktual seputar program jurusan di MMU Aliyah. Sedangkan forum diskusi kerap mengangkat tema Islam kontemporer yang akan diseminarkan di kuliah umum, sehingga diskusi ini biasa disebut diskusi pra kuliah umum.

UKPBM fokus pada pengembangan bakat dan minat dengan mengadakan pelatihan, seperti jurnalistik, kursus keterampilan, dan olahraga. Program ini bersifat insidentil disesuaikan dengan momen dan kebutuhan murid. Kegiatan unit ini lebih sedikit dibanding unit yang lain, karenanya pimpinan OMIM kerap menambah program lain seperti kegiatan menulis buku atau menterjamah kitab.

UKPM bertugas menerbitkan majalah IJTIHAD dua kali dalam satu tahun. Hingga kini majalah yang terbit perdana pada Rajab 1415 H ini telah menjelma menjadi majalah yang digandrungi oleh santri. Pendistribusiannya sudah meluas di daerah Jawa dan Madura dengan oplah mencapai 6000 eks. Ijtihad telah 36 kali terbit dengan 18 Pimpinan Redaksi. (Sejarah lengkapnya baca: IJTIHAD Edisi 31).

Sedangkan UKM fokus pada penerbitan Mading HIMMAH yang terbit tiap dua pekan sekali. Mading yang lahir lima tahun setelah IJTIHAD ini menjadi ajang latihan bagi santri sebelum mengirim karyanya pada media yang lebih besar sekaligus menjadi regenerasi untuk redaksi IJTIHAD. Mading HIMMAH juga aktif mengikuti lomba yang digelar di Pasuruan atau di daerah lain. Di antaranya pernah menjadi mading 2 dimensi terbaik DetEksi Jawa Pos (2004), masuk 10 mading terbaik 2K3 Championship DetEksi (2004), dan menjadi terbaik IV lomba mading 3 dimensi yang diadakan oleh BNK Pasuruan (2009) .

Dari tahun ke tahun OMIM selalu tampil aktif di segala kegiatan ekstrakurikuler madrasah, meski perjuangan tersebut harus dibayar mahal dengan mengorbankan banyak hal. Hal ini selaras dengan niatan awal organisasi ini yang ingin membentuk dan mengembangkan jiwa kreativitas murid Aliyah ke arah yang positif. (BS_71)

Dipublikasi di Kabar SIDOGIRI | 1 Komentar

MMU ALIYAH; Sistem Pendidikan Ideal untuk Santri Senior

Hingga saat ini MMU tingkat Aliyah masih tetap menjadi jenjang pendidikan tertinggi di Madrasah Miftahul Ulum (MMU). Didirikan pada tanggal 03 Muharam 1403 atau 21 Oktober 1982. Sebagai jenjang tertinggi, MMU Aliyah berfungsi sebagai fase pendalaman ilmu-ilmu agama secara terfokus melalui sistem terpadu. Para murid dibimbing oleh guru-guru senior dengan kompetensi keilmuan yang telah diakui. Beberapa di antaranya bahkan menjadi pengasuh di beberapa pesantren di daerah Pasuruan dan dosen di beberapa perguruan tinggi yang hampir semuanya alumni PPS.

Di masa awal, MMU Aliyah bernama Aliyah Tarbiyatul Muallimin (ATM), nama ini sesuai dengan tujuannya yang ingin mencetak tenaga pengajar berkualitas. Namun sejak tahun ajaran 1425/1426 H, MMU Aliyah mulai menerapkan sistem kejuruan di kelas II dan kelas III dengan tiga kejuruan: Tarbiyah (Konsentrasi bidang pendidikan), Dakwah (Konsentrasi bidang dakwah), Muamalah (Konsentrasi bidang ekonomi syariah).

Dengan terbentuknya kelas kejuruan ini, secara otomatis terbentuklah mata pelajaran khusus di masing-masing kelas kejuruan. Misalnya materi Tafsir: Tafsir ayat-ayat tarbiyah untuk jurusan Tarbiyah; ayat-ayat ekonomi untuk jurusan Muamalah, dan ayat-ayat dakwah untuk jurusan dakwah. Dengan sistem ini diharapkan murid bisa mengembangkan potensi keilmuannya dengan maksimal sesuai dengan jurusan yang ada.

Atmosfer keilmuan di tingkat Aliyah yang kompetitif membuat kurikulum dan metode pengajarannya lebih variatif. Metode diskusi dan demonstrasi menjadi pilihan yang pas untuk mengakomodasi kemampuan belajar mereka. Hal ini ditambah dengan kegiatan lain yang sangat menunjang kompetensi keilmuan mereka, seperti LMF (Lajnah Muraja’ah Fiqhiyah) dan LPSI (Lembaga Penelitian Studi Islam) Kuliah Syariah.

Dalam hal evaluasi, MMU Aliyah berbeda dibanding tingkatan yang lain. Yakni menggunakan sistem semester, bukan lagi Imtihan Dauri (Imda) yang terlaksana tiga kali dalam satu tahun. Bukan hanya itu, fan pokok yang menjadi standar kenaikan kelas juga berbeda. Yaitu hanya terbatas pada pelajaran Tafsir, Fiqih, Tauhid dan kemampuan baca kitab dengan nilai rata-rata 6.

Senioritas murid Aliyah tidak lantas membuat mereka mendapatkan perlakuan istimewa di kala mereka bertindak indisipliner pada peraturan Madrasah. Sekadar contoh, apabila jumlah absen alpa murid sampai lima belas hari, maka yang bersangkutan akan dikeluarkan dari madrasah setelah sebelumnya mendapatkan peringatan. Peraturan ini juga berlaku di tingkatan lain di MMU PPS.

Langkah preventif ini dilakukan agar tujuan pendidikan yang telah dicanangkan pengurus dapat tercapai dengan baik dan membiasakan mereka hidup disiplin. Demikian selaras dengan cita-cita luhur PPS yang ingin mencetak santrinya menjadi ibâdillâh ash-slihîn.

Manajemen pendidikan di tingkat Aliyah yang kian rapi mendapatkan apresiasi positif dari beberapa pengelola perguruan tinggi. Sehingga lulusan MMU Aliyah dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi yang mereka kelola. Seperti STEI Tazkia, Bogor, UIN Maliki, Malang, dan Universitas Nasional PASIM, Bandung.

Murid Aliyah adalah murid tingkat akhir yang sebentar lagi akan terjun di tengah-tengah masyarakat, karenanya pengurus PPS mengharapkan mereka untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi semua serta bisa mengamalkan dan menyalurkan ilmunya dengan baik. Seperti yang telah diwasiatkan oleh almaghfurlah KH. Cholil Nawawie bahwa santri PPS yang telah boyong diharapkan sebisa mungkin untuk mengajar. (BS_70)

Dipublikasi di Kabar SIDOGIRI | Meninggalkan komentar

MMU Tsanawiyah; Bentengi Akidah Sejak Dini

Madrasah Tsanawiyah didirikan pada Dzul Hijjah 1376 atau Juli 1957, sebagai jenjang pendidikan kedua setelah Madrasah Ibtidaiyah. Di tingkatan ini murid ditargetkan mampu memahami kitab mata pelajarannya sendiri dan kitab pendukung yang lain. Tsanawiyah terdiri dari tiga tingkatan kelas, masing-masing tingkatan dibagi jadi beberapa ruang kelas sesuai dengan kebutuhan.
Mulai tahun ajaran 1429-1430, diadakan kelas akselarasi atau percepatan yang cukup ditempuh dalam masa 2 tahun, kelas ini dikhususkan bagi murid yang memiliki IQ cukup dengan melalui serangkaian tes dan penyeimbangan mata pelajaran. Di kelas akselarasi ini KBM, dilaksanakan dua kali, pagi dan malam. Pagi mulai pukul 07.30 s.d 12.10 Wis dan malam mulai pukul 07.30 s.d. 09.00 Wis. Sedang untuk kelas reguler hanya masuk di siang hari.
Di tingkat Tsanawiyah para murid tidak hanya dibekali dengan pemantapan berbagai macam ilmu keislaman dalam bentuk KBM, tapi ada juga yang melalui kursus yang fokus materinya pada pembekalan dan pemantapan akidah Ahlusunah Waljamaah. Kursus ini ditangani oleh organisasi yang bernama Annajah (Ahlusunah Waljamaah).
Organisasi ini didirikan pada tahun 1964 dengan nama Kahanas (Kaderisasi Ahlusunah Waljamaah). Kemudian pada tahun 1973 organisasi khusus murid Tsanawiyah ini diganti nama menjadi Annajah. Di masa-masa awal, kegiatan Annajah hanya diperuntukkan bagi murid kelas III Tsanawiyah dengan materi berkisar pada akidah, tasawuf, akhlak, dan seputar kemasyarakatan. Baru pada tahun 1984 kegiatan pembekalan ini juga diperuntukkan bagi kelas I dan II Ts dengan fokus materi yang berbeda.
Seiring perkembangan waktu, kini Annajah memiliki tiga kegiatan pokok. Pertama, kursus yang meliputi materi akidah, tasawuf, administrasi, dedaktik metodik, dan fikih kemasyarakatan. Kursus ini terlaksana sepekan sekali untuk tiap kelas dengan pengursus tetap pada masing-masing materi. Dalam satu tahun kursus Annajah ini bisa berlangsung hingga lebih dari 20 kali pertemuan.
Kedua, penerbitan Mading Madinah (Majalah Dinding Annajah) tiap bulan sekali. Mading ini dikelola oleh murid Tsanawiyah yang telah ditunjuk. Selain memuat artikel-artikel akidah Sunni, mading ini juga berfungsi sebagai sarana komunikasi antara murid dengan pimpinan MMU Tsanawiyah, serta wahana penampung kreativitas murid di dalam dunia tulis menulis.
Ketiga, menyelenggarakan seminar ilmiah seputar ajaran Ahlusunah Waljamaah setahun sekali untuk masing-masing kelas. Sesuai dengan tujuan didirikannya Annajah untuk membentengi akidah murid, maka materi seminar sebatas pada penguatan akidah dan tidak menyentuh pada ranah perdebatan akidah.
Berbagai tokoh baik lokal maupun nasional sudah pernah diundang untuk menjadi pemateri dalam seminar ini dan berbagai topik akidah sudah pernah diangkat. Semisal, membongkar kesesatan Ahmadiyah, memahami arti tasawuf, Islam Liberal, Islam Jaulah, Islam Kebatinan, dan Islam Kejawen.
Kegiatan seperti ini penting dilaksanakan untuk pemantapan akidah murid Tsanawiyah sejak dini, di samping juga menjadi sarana latihan bagi mereka dalam berorganisasi. Pelaksana kegiatan ini sepenuhnya ditangani oleh murid Tsanawiyah di bawah koordinator pengurus Madrasah. Mereka diangkat melalui sistem pemilihan yang dilaksanakan di awal tahun pelajaran. Selain itu, juga menjadi bekal bagi murid kelas III di dalam menjalani tugas mengajar di berbagai tempat di Indonesia. (BS_69)

Dipublikasi di Kabar SIDOGIRI | Meninggalkan komentar