MMU ALIYAH; Sistem Pendidikan Ideal untuk Santri Senior

Hingga saat ini MMU tingkat Aliyah masih tetap menjadi jenjang pendidikan tertinggi di Madrasah Miftahul Ulum (MMU). Didirikan pada tanggal 03 Muharam 1403 atau 21 Oktober 1982. Sebagai jenjang tertinggi, MMU Aliyah berfungsi sebagai fase pendalaman ilmu-ilmu agama secara terfokus melalui sistem terpadu. Para murid dibimbing oleh guru-guru senior dengan kompetensi keilmuan yang telah diakui. Beberapa di antaranya bahkan menjadi pengasuh di beberapa pesantren di daerah Pasuruan dan dosen di beberapa perguruan tinggi yang hampir semuanya alumni PPS.

Di masa awal, MMU Aliyah bernama Aliyah Tarbiyatul Muallimin (ATM), nama ini sesuai dengan tujuannya yang ingin mencetak tenaga pengajar berkualitas. Namun sejak tahun ajaran 1425/1426 H, MMU Aliyah mulai menerapkan sistem kejuruan di kelas II dan kelas III dengan tiga kejuruan: Tarbiyah (Konsentrasi bidang pendidikan), Dakwah (Konsentrasi bidang dakwah), Muamalah (Konsentrasi bidang ekonomi syariah).

Dengan terbentuknya kelas kejuruan ini, secara otomatis terbentuklah mata pelajaran khusus di masing-masing kelas kejuruan. Misalnya materi Tafsir: Tafsir ayat-ayat tarbiyah untuk jurusan Tarbiyah; ayat-ayat ekonomi untuk jurusan Muamalah, dan ayat-ayat dakwah untuk jurusan dakwah. Dengan sistem ini diharapkan murid bisa mengembangkan potensi keilmuannya dengan maksimal sesuai dengan jurusan yang ada.

Atmosfer keilmuan di tingkat Aliyah yang kompetitif membuat kurikulum dan metode pengajarannya lebih variatif. Metode diskusi dan demonstrasi menjadi pilihan yang pas untuk mengakomodasi kemampuan belajar mereka. Hal ini ditambah dengan kegiatan lain yang sangat menunjang kompetensi keilmuan mereka, seperti LMF (Lajnah Muraja’ah Fiqhiyah) dan LPSI (Lembaga Penelitian Studi Islam) Kuliah Syariah.

Dalam hal evaluasi, MMU Aliyah berbeda dibanding tingkatan yang lain. Yakni menggunakan sistem semester, bukan lagi Imtihan Dauri (Imda) yang terlaksana tiga kali dalam satu tahun. Bukan hanya itu, fan pokok yang menjadi standar kenaikan kelas juga berbeda. Yaitu hanya terbatas pada pelajaran Tafsir, Fiqih, Tauhid dan kemampuan baca kitab dengan nilai rata-rata 6.

Senioritas murid Aliyah tidak lantas membuat mereka mendapatkan perlakuan istimewa di kala mereka bertindak indisipliner pada peraturan Madrasah. Sekadar contoh, apabila jumlah absen alpa murid sampai lima belas hari, maka yang bersangkutan akan dikeluarkan dari madrasah setelah sebelumnya mendapatkan peringatan. Peraturan ini juga berlaku di tingkatan lain di MMU PPS.

Langkah preventif ini dilakukan agar tujuan pendidikan yang telah dicanangkan pengurus dapat tercapai dengan baik dan membiasakan mereka hidup disiplin. Demikian selaras dengan cita-cita luhur PPS yang ingin mencetak santrinya menjadi ibâdillâh ash-slihîn.

Manajemen pendidikan di tingkat Aliyah yang kian rapi mendapatkan apresiasi positif dari beberapa pengelola perguruan tinggi. Sehingga lulusan MMU Aliyah dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi yang mereka kelola. Seperti STEI Tazkia, Bogor, UIN Maliki, Malang, dan Universitas Nasional PASIM, Bandung.

Murid Aliyah adalah murid tingkat akhir yang sebentar lagi akan terjun di tengah-tengah masyarakat, karenanya pengurus PPS mengharapkan mereka untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi semua serta bisa mengamalkan dan menyalurkan ilmunya dengan baik. Seperti yang telah diwasiatkan oleh almaghfurlah KH. Cholil Nawawie bahwa santri PPS yang telah boyong diharapkan sebisa mungkin untuk mengajar. (BS_70)

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Kabar SIDOGIRI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s